Remaja Menjadi Tolak Ukur dalam Upaya Mewujudkan
Bojonegoro Hebat Tanpa HIV/AIDS
Oleh:
Siti Li’amanah
Prodi Bahasa dan Sastra Arab
IAI Sunan Giri Bojonegoro
Pendahuluan
Permasalahan
HIV/AIDS kerap dibahas di kalangan berbagi kalangan, utamnya di kalangan
remaja. Remaja memang rentan dengan permasalahan seksual yang tinggi dan sering
kali mendefinisikan remaja sebagai periode transisi antara masa anak-anak
menuju dewasa, jadi tidak dapat dipungkiri bahwa remaja berada pada fase labil
dan sangat rentan melakukan segala sesuatu tanpa berfikir panjang hanya
terfokus pada kesenangan sesaat, misalnya seks bebas (free sexs) namun
ternyata hal itu bukanlah satu-satunya faktor pemicu terjangkit HIV/ AIDS,
setelah dilakukan sebuah research para penderita HIV/AIDS di Bojonegoro hampir
secara keseluruhan mereka yang terjangkit bukanlah dari kalangan remaja saja
melainkan dari beberapa golongan, golongan usia 0-4 tahun terdapat 2
penderita,usia 20-24 tahun 6 penderita, usia 25-29 tahun 9 penderita, usia
30-34 tahun 28 penderita, usia 35-39 tahun 26 penderita, 40-44 tahun 31
penderita, 45-49 tahun 16 penderita, 50-54 tahun 17 penderita, 55-59 tahun 7
penderita, dan usia 60 tahun lebih terdapat 1 penderita ( On-line https://beritabojonegoro .com/read/7303-tahun-ini-ada-19-penderita-hiv-aids-di-bojonegoro-meninggal-dunia.html, 10 Desember 2016).
Seperti yang telah dipaparkan diatas
namun tetaplah remaja menjadi faktor
utama timbulnya HIV/AIDS, hal ini karena kehidupan remaja saat ini dan kondisi
psikologi remaja yang sangat rawan dengan keadaan tersebut, bisa kita tarik sebuah pemahaman bahwa remaja
bisa menjadi sebuah tolak ukur bagi permasalahan HIV/AIDS di Bojonegoro, selain
itu pula melalui remaja di Bojonegoro mampu menjadi upya untuk mewujudkan
Bojonegoro yang hebat bila tanpa HIV/AIDS, melalui analisa diri, education dan
meluasnya pengetahuan remaja saat ini layaknya mereka mampu merealisasikan
sebuah pengetahuan tersebut sebagai upaya dalam menciptakan Bojonegoro menjadi
Kabupaten yang hebat tanpa HIV/AIDS.
1.
Peranan Remaja dalam Menjadi Tolak Ukur Bojonegoro Hebat Tanpa
HIV/AIDS
Penyebaran virus human immunodeficiency
Virus (HIV) dan aquired immune deficiency Syndrome (AIDS) di
Kabupaten Bojonegoro setiap tahunnya semakin meningkat dari tahun ke tahun mulai
dari 2012-2016 bisa dilihat pada grafik berikut:
Tabel:
jumlah penderita HIV/AIDS 5 tahun terakhir di Bojonegoro
(On-line,
http://tribratanewsbojonegoro.com/kasus-hiv-aids-bojonegoro–meningkat
-5-tahun-terakhir/, 10 Desember 2016)
Dari grafik diatas dapat kita ketahui jumlah
penderita HIV/AIDS selama 5 tahun terakhir di Bojonegoro, pada 4 tahun pertama
penderita HIV/AIDS di Bojonegoro terus mengalami peningkatan namun satu tahun
terakhir yaitu tahun 2016 penderita HIV/AIDS di Bojonegoro mengalami penurunan,
penurunan jumlah penderita HIV/AIDS ini tidak lepas dari peranan remaja di
Kabupaten Bojonegoro ini, diantara peran remaja dalam menjadi tolak ukur
Bojonegoro hebat tanpa HIV/AIDS ialah:
a.
Remaja sebagai generasi muda mampu membentuk
konsep diri secara psikologis kedewasaan sehingga muncul beberapa kemampuan
diantaranya kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya, kemampuan
tenggang rasa serta tumbuhnya kepribadian dewasa (mature personality)dan rasa tanggung
jawab untuk mau merasakan penderitaan orang yang dicintainya, mampu melihat
diri sendiri secara objektif (self objectivication) serta mampu
memilikifalsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life) ( Sarlito
W. Sarwono, 2011:81-82).
b.
Remaja mempunyai tingkat intelegensi yang kuat
seperti intelektual yang terkait dengan gerakan tubuh (bodily kinesthetic),
hubungan dengan orang lain (Interpersonal), kemampuan introspeksi dan
refleksi diri (Intrapersonal) dan lain-lain ( Sarlito W. Sarwono,
2011:88).
c.
Remaja memegang kendali peran sosial dan peran
gender yang mutlak, sehingga dalam berbagai interaksi baik sosial, moral maupun
religi juga diperlukan, maka penting pula memahami tingkat emosi dan seksual
remaja.
Melihat dari beberapa peran remaja diatas maka remaja bisa menjadi
tolak ukur Bojonegoro bebas dari HIV/AIDS karena jika para remaja di Bojonegoro
ini mengetahui peran yang dimilikinya, maka presentase pemahaman dan tingkat
kewaspadaan serta ketelitian remaja terhadap permasalahan yang terjadi
disekitarnya mampu terpecahkan dengan mudah, utamanya mengenai permasalahan
HIV/AIDS yang menjalar di masyarakat Bojonegoro saat ini.
2.
Upaya dalam Mewujudkan Bojonegoro Hebat Tanpa HIV/AIDS Melalui Remaja di Bojonegoro
HIV (human immunodeficiency
Virus) dan AIDS (aquired immune deficiency Syndrome) keduanya
merupakan kumpulan gejala penyakit yang
timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh. AIDS (aquired immune deficiency Syndrome)
terjadi ketika sel darah putih (leukosit) yang berfungsi dalam kekebalan tubuh
diserang oleh HIV (human immunodeficiency virus) (On-line, http://www.mahkotasains.com/2016/07/
peranan-remaja-dalam-pencegahan-hiv-aids.html, 10
Desember 2016).
Di Bojonegoro sudah banyak korban
yang meninggal akibat HIV/AIDS, melihat kasus demikian maka Bojonegoro akan
menjadi hebat jika tanpa HIV/AIDS dan dalam hal itu diperlukan beberapa upaya
untuk mewujudkannya. Maka terdapat beberapa upaya yang seharusnya dilakukan
oleh para remaja di Bojonegoro, diantaranya ialah:
a.
Remaja Bojonegoro membentuk kelompok studi
Anti-AIDS. Kegiatan dilakukan dengan cara diskusi atau tanya jawab tentang
bahaya HIV-AIDS, cara pencegahan, perlakuan baik pada penderita. Diskusi dapat
dilakukan di kelas, sekolah, atau bahkan dengan mengunjungi lembaga yang
berkaitan dengan Peduli AIDS.
b.
Menjadi kosultan atau penyuluhan bagi teman
sebaya. Ketika remaja sudah memahami tentang HIV-AIDS maka mereka dapat
dijadikan sebagai tutor sebaya untuk membagikan informasi tentang bahaya
HIV-AIDS, menjadi konsultan pula bagi beberapa golongan utamanya bagi mereka
yang awam mengenai sebab-sebab penularan HIV/AIDS sehingga mereka berhati-hati
dan tingkat penderita HIV/AIDS di Bojonegoro kanberkurang.
c.
Para remaja menghindari pergaulan bebas.
Pergaulan bebas dapat mengarah kepada seks bebas (free sex). Penularan
HIV-AIDS umumnya melalui seks bebas. Hindari dan jangan pernah lakukan seks
bebas karena selain beresiko tertular HIV-AIDS dan penyakit menular seksual
(PMS) juga tidak sesuai dengan norma agama dan sosial.
d.
Menjauhi Narkoba. Penggunaan narkoba juga dapat
menularkan HIV-AIDS melalui pemakaian jarum suntik secara bergantian. Selain
beresiko HIV-AIDS penggunaan narkoba akan menyebabkan kecanduan dan
membahayakan kesehatan serta dalam penggunaanya merupakan kegiatan melanggar
hukum.
e.
Membuat poster atau stiker tentang HIV-AIDS.
Informasi tentang bahaya HIV-AIDS dapat disebarkan kepada masyarakat dengan
membuat poster atau stiker atau dengn berbagai cara yang mampu di mengerti baik
bagi mereka kalangan yang berpendidikan dan mereka yang tidak berpendidikan.
Penutup
Remaja memiki peranan besar dalam
mewujudkan serta menjadi tolak ukur Bojonegoro yang hebat tanpa HIV/AIDS
diantara perannya ialah, remaja sebagai
generasi muda yangmampu membentuk konsep diri serta mengatur intelegensi baik
secara sosisl maupun IQ dan remaja mampu pula memegang kendali dalam peran
sosial serta peran gendernya baik secara moral maupun religi. Selain itu ada
pula beberapa upaya dalam mewujudkan Bojonegoro hebat tanpa HIV/AIDS melalui
remaja diantaranya ialah para remaja membuat suatu kajian diskusi untuk
membahas mengenai HIV/AIDS,serta gejala maupun bahayannya, remaja yang lebih
tahu bisa juga menjadi konsultan mengenai masalah HIV/AIDS bagi masyarakat
Bojonegoro lainnya, remaja Bojonegoro mampu menghindari seks bebas, mampu
menghindari narkoba serta berusaha dengan upaya-upaya lain yang bisa dimengerti
oleh berbagai kalangan.
Daftar Pustaka
Sarwono, Sarlito W, Psikologi Remaja, Rajawali Pres,
Jakarta, 2011, hal. 81, 82 dan 88.
On-line, http://www.mahkotasains.com/2016/07/
peranan-remaja-dalam-pencegahan-hiv-aids.html, 10
Desember 2016.
On-line, http://tribratanewsbojonegoro.com/kasus-hiv-aids
bojonegoro– meningkat -5-tahun-terakhir/, 10 Desember 2016.
On-line, https://beritabojonegoro.com/read/7303-tahun-ini-ada-19-penderita-hiv-aids-di-bojonegoro-meninggal-dunia.html, 10 Desember 2016.
Komentar
Posting Komentar